Dra Dyah Wijaya Dewi, M Hum
Batik yang berasal dari kata bahasa jawa embat dan titik, yang artinya mengisi dengan titik-titik adalah bentuk seni melukis dengan sistim perintang warna, dengan menggunakan alat canting dan malam. Di Indonesia seni membatik sudah dikenal sejak abad X. Hal ini diketahui dari sebuah prasasti dari wangsa Sanjaya yang menyebut adanya proses pembuatan batik. Selanjutnya sejarah perkembangan batik berjalan seiring dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian karena masuknya bangsa-bangsa asing ke Nusantara, maka batikpun mengalami perkembangan corak, motif dan warna.
Perkembangan Batik dan Sejarah Indonesia
Berbicara masalah perkembangan batik terutama di Jawa, maka kita harus melihat juga kepada perjalanan sejarah tanah Jawa. Hal ini mengingat pada masa lalu batik yang digambarkan pada kain tenun adalah satu-satunya busana yang dikenakan oleh masyarakat Jawa, sebelum berbagai jenis kain dari luar Nusantara masuk dibawa oleh pedagang bangsa asing. Keterkaitan perkembangan batik dengan sejarah disebabkan adanya interaksi antara masyarakat dari satu daerah dengan daerah lain akibat kehidupan perdagangan, perkawinan, ataupun akibat pengambilalihan kekuasaan suatu wilayah dari satu penguasa ke penguasa lainnya. Misalnya motif Mataraman yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat pedalaman Banyumas dan sekitarnya karena dibawa oleh keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro, atau motif-motif batik Jepara (yang waktu itu menjadi bagian dari kerajaan Mataram) masuk ke wilayah pesisir Rembang, karena perkawinan RA Kartini) dengan bupati Rembang.
Ada dua pendapat yang hingga kini masih sering menjadi perbincangan di kalangan pemerhati batik, yaitu tentang persebaran motif batik Pertama adalah pendapat yang menyebutkan bahwa seni membatik merupakan seni rakyat yang kemudian diadopsi oleh kalangan istana, sementara pendapat lain menyebut sebaliknya, bahwa seni lukis di atas kain tersebut bermula dari istana, dan kemudian oleh para abdi dalem yang biasanya memiliki keluarga di luar, dibawa keluar istana. Bukan merupakan hal penting untuk diperdebatkan, karena hanya perlu digunakan untuk landasan berpikir guna mangkaji motif-motif yang kemudian berkembang hampir di setiap daerah di jawa Tengah.
Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran
Dalam selembar batik ada tiga unsur yang bisa menjadi pembeda antara satu batik dengan batik lainnya, yaitu jenis latar dan isen, jenis motif , dan warna.
Selama ini sering kita menyebut bahwa corak batik terbagi dua jenis sesuai lokasi batik itu dibuat , yaitu Batik Pesisir dan Batik Pedalaman. Batik Pesisir memiliki corak-corak natural ( fauna, flora, manusia), warna-warna terang, dan sering memiliki hiasan tumpal di bagian tengah. Batik Pedalaman Yogya – Solo bermotif simbolik : geometrik, serta corak-corak yang yang memiliki makna tertentu. Berwarna hitam, coklat, biru atau putih. Pendapat itu tentu didasari pengertian bahwa kebudayaan Jawa secara umum memang terbagi atas budaya Pesisir dan budaya Keraton , yang masing-masing memiliki ciri atau identitas sendiri. Jika motif batik keraton diperkirakan sudah digunakan sejak abad X, motif pesisir muncul dan berkembang di Jaw sekitar 5 abad kemudian. Selanjutnya motif-motif itu digunakan dan dibuat oleh masyarakatnya masing-masing, hingga pada suatu saat motif-motif itu saling berinteraksi dan saling beradaptasi.
Akan tetapi kita juga harus mengingat bahwa daerah pedalaman juga memiliki masyarakat yang hidup di luar keraton, yang secara geografis keletakannya jauh dari keraton. Masyarakat ini tentunya memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan komunitas keraton, yang sarat dengan aturan dan simbol, tapi juga berbeda dengan masyarakat Pesisir. Mengingat batik adalah jenis pakaian yang digunakan oleh orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari, tentu kegiatan membatik juga dilakukan oleh masyarakat pedalaman ‘nonkeraton’ itu ( Sebelum batik menjadi komoditi dagang, orang harus membuat sendiri batik yang akan dipakainya) .Motif apa yang mereka buat, dan pola pikir apa yang mendasari mereka mencipta motif batiknya? .Dari temuan batik-batik lama yang berasal dari daerah nonpesisir seperti Banyumas, Sokaraja, Kebumen, Banjarnegara, Wonogiri dan mungkin daerah-daerah lain, terlihat bahwa mereka mengadopsi corak dan warna dari Pesisir dan Keraton. Bahkan sering dua jenis motif itu dipadukan dalam selembar kain, misalnya motif geometrik menjadi dasar dari motif natural, sehingga muncul motif-motif misalnya, bunga di atas motif kawung, atau burung di atas motif tluntum atau parang. Warna-warna cerah juga sering muncul dibarengi dengan warna sogan keraton. Selain itu, alam lingkungan tampaknya sangat mempengaruhi corak batik mereka, sehingga muncul motif jenis-jenis daun yang kemungkinan merupakan tanaman yang banyak tumbuh di derah mereka. Penamaan dan motif batik sering menggunakan nama jenis tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan, misalnya beras, kedelai, kunyit, daun ubi, biji melinjo, bambu, salak, mangga, dsb. Kelihatannya tanaman yang sangat berkaitan dengan pangan menjadi motif favorit mereka.
Motf dan Makna Batik
Pada masa lampau orang menciptakan motif batik tidak hanya dari sisi keindahan, akan tetapi juga dari sisi pemaknaan yang dihubungkan dengan falsafah kehidupan yang mereka hayati. Ragam hias sering diciptakan untuk meyampaikan pesan dan harapan yang baik bagi kehidupan manusia.
Beberapa corak-corak batik, terutama yang merupakan corak batik keratonan memiliki makna khusus dan oleh sebagian masyarakat kita hanya digunakan pada saat tertentu. Misalnya : Motif Parang, Kawung, dan Sawat (Lar/Grudo). Pada masa lampau motif-motif tersebut hanya boleh digunakan oleh keluarga keraton. Akan tetapi peraturan itu tidakberlangsung lama, karena kemudian motif-motif larangan tersebut segera diadopsi oleh masyarakat luas di luar istana. Yang dimaksud dengan makna khusus misalnya motif kawung melambangkan kehidupan yang terus menerus, motif parang dan garuda melambangkan kekuasaan, motif gunungan/meru melambangkan dunia atas.
Selain itu ada juga motif-motif yang digunakan pada acara-acara khusus, misalnya motif Sidomukti, Sidomulyo, Sidoasih, yang digunakan pada saat perkawinan oleh pasangan pengantin, Tluntum digunakan oleh orang tua pengantin, atau Semen Rama yang digunakan pada saat seorang pria melamar calon pengantin wanita.
Sebelum Mataram terbagi menjadi Yogyakarta dan Surakarta, motif batik keduanya sama, akan tetapi setelah terjadi pemecahan menjadi dua kerajaan, juga terjadi pembedaan motif batik dari keduanya. Perbedaan yang mencolok adalah pada warna latar. Untuk latar putih, maka Yogyakarta memiliki warna putih terang, sementara Solo memiliki warna putih tulang. Demikian juga dengan warna coklat, Yogyakarta memiliki warna coklat yang lebih terang daripada warna coklat Surakarta.
Pada batik pesisir aturan pemakaian motif batik berdasarkan status sosial sejak dulu tidak dikenal. Batik pesisir yang sangat kental dengan pengaruh budaya Cina sering memakai motif-motif yang berkaitan dengan mitos Cina, misalnya burung hong, kupu, bunga atau naga. Meskipun demikian, dalam masyarakat Cina Peranakan ada warna-warna batik yang dipilih untuk dipakai jika mendatangi suatu acara tertentu, misalnya warna merah untuk menghadiri acara yang berkaitan dengan suasana kegembiraan, atau warna biru-putih untuk acara yang berkaitan dengan dukacita.Selain pengaruh Cina, batik pesisir juga memiliki unsur atau pengaruh dari budaya Arab (islam) dan juga Belanda. Pengaruh Arab biasanya dalam bentuk hiasan geometris atau kaligrafi, sedang pengaruh Belanda dengan hiasan bunga-bunga yang berbentuk buket.
Pasang Surut Batik
Batik yang semula hanya dibuat untuk dipakai sendiri oleh keluarga pembuatnya, pada masa kolonial menjadi komoditi yang diperdagangkan. Di beberapa wilayah muncul perusahaan-perusahaan batik yang dikelola baik oleh masyarakat lokal, masyarakat Tionghoa, maupun oleh orang-orang Belanda. Antara tahun 1920-1950 batik menjadi komoditi eksport ke negara-negara Eropa.
Pasang surut kehidupan batik telah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Perkembangannyapun mengikuti perjalanan sejarah Indonesia. Sejak masa Mataram Kuno, masa Majaphit, di mana saat itu juga berkembang motif-motif pesisiran, berlanjut ke masa Mataram Islam yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Agung, dan akhirnya muncul motif-motif Belanda pada masa pemerintahan Belanda. .Batik juga berkembang menyusuri pulau Jawa , baik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan jawa Barat, dari pedalaman ke pesisir, maupun sebaliknya. Corak-corakpun semakin berkembang karena adanya saling mempengaruhi dan saling mengadaptasi antara satu jenis batik dengan lainnya.
Pada saat masa paceklik batik (1950 -1970) , batik Yogya , Solo, Pekalongan, tetap eksis, karena produsen batik tersebut bayak yang sudah dikelola sebagai badan usaha (perusahaan). Akan tetapi batik-batik pedalaman bukan keraton, yang dibuat oleh penduduk yang kebanyakan adalah kleuarga petani, banyak ditinggalkan oleh para perajinnya, selain karena mahalnya bahan baku juga karena mulai ada persaingan degang tekstil yang datang dari luar. Para perajin tersebut kemudian beralih profesi menjadi buruh pabrik atau berdagang, karena mereka tidak sanggup membeli bahan dasar batik.
Saat ini batik sudah berkembang menjadi busana modern. Kain batik tidak lagi harus dikenakan sebagai kain kebaya atau sarung, tetapi dapat diolah menjadi berbagai jenis busana. Dengan semakin meluasnya pemakaian batik oleh masyarakat Indonesia, maka perajin-perajin batik akan terangkat kembali kehidupannya , dan pelestarian salah satu unsur budaya tradisional Indonesia dapat tercapai.
Filed under: Batik | Tagged: Batik | Leave a Comment »