Batik Semarang

Dra. Dyah Wijaya Dewi, M Hum
Pencarian motif batik Semarang sudah setahun ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pemerhati batik di kota Semarang. Hal tersebut dapat dimengerti karena dalam rangka peningkatan potensi lokal, pemerintah melakukan upaya pengembangan dan penggalian kerajinan-kerajinan tradisional, termasuk beberapa kali melakukan pelatihan membatik. Hingga saat ini perajin batik hasil pelatihan yang diadakan oleh pemerintah kota, baik melalui dinas Perindag ataupun dinas tenaga kerja telah mencapai sekitar 100 pembatik. Meskipun belum semua pembatik-pembatik itu mampu menghasilkan kain-kain yang memenuhi standard untuk dipasarkan, kegiatan membatik dan produksi batik terus berjalan. Motif-motif yang sering muncul dari para perajin batik di Semarang, sampai sat ini, adalah motif-motif yang diambil dari motif batik-batik lama masa Belanda, serta motif-motif baru yang sebagian merupakan ikon kota Semarang.

Seperti saya sampaikan di atas, pemerintah kota Semarang, melalui Dekranasda dan Disperindag mempunyai keinginan agar Semarang memiliki motif khas batik. Untuk itu beberapa saat yl dilakukan seminar tentang batik Semarang, yang tujuannya untuk dapat merumuskan motif batik yang akan menjadi ciri batik Semarang. Dalam seminar itu ditampilkan batik-batik lama yang diperkirakan merupakan batik Semarang. Pembicara, DR Dewi Yuliati memberikan data-data yang diambil dari Berita Belanda (Kolonial Verslag 119 & 1925.),menyebutkan industri batik di Semarang mencapai jumlah 107, dengan perajin perempuan dan laki-laki sebanyak 800 orang. Melihat jumlah industri batik sebanyak itu, seharusnya masih bisa didapatkan  sample  yang lebih banyak. Selain itu motif-motif dari temuan batik tersebut, sebenarnya tidak merupakan motif yang hanya dipunyai oleh batik yang diketemukan di Semarang, tetapi juga ada pada batik daerah lain (Pekalongan, Demak, Kebumen). Sebenarya selain motif, ciri dapat juga dimunculkan oleh warna dan jenis tanahan. Mengenai tanahan, di sebuah buku batik koleksi G. Smend (ditulis oleh Fiona Kroeger), yang disebut sebagai ciri Semarangan adalah jenis tanahannya.

Batik adalah sebuah benda budaya yang dihasilkan oleh  masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu pada suatu masa tertentu. Batik juga merupakan hasil karya manusia yang mevisualisasikan lingkungannya pada masa itu, baik lingkungan fisik maupun nonfisik yang dianut masyarakatnya ( filsafat, nilai-nilai, simbol, cerita rakyat dsb). Selain terkait erat dengan lingkungannya , perkembangan batik di suatu wilayah juga dipengaruhi oleh situasi politik dan kekuasaan daerah tersebut. Mengenai hal ini kita dapat mengambil referensi dari sejarah Sultan Agung dan P Diponegoro, yang di dalam perjalanan perangnya sekaligus merupakan penyebaran batik ke wilayah-wilayah yang disinggahinya..

Di Semarang, jika kita ingin meruntut sejarah , Bupati Semarang yang dinobatkan pada tahun 1547 dengan gelar Sunan Pandan Arang II, memutuskan untuk mendalami masalah keagamaan dan menyingkir ke Tembayat, Klaten. Perpindahan Sunan Pandan Arang II ke Tembayat tentunya juga merupakan perpindahan batik-batik yang dikenakan olehnya, keluarga dan pengiringnya. Mengingat bahwa di Tembayat hingga kini masih ada komunitas pembatik, maka pengadaptasian motif batik dari batik Semarang yang ‘dibawa’ oleh Sunan Pandan Arang  ke dalam batik Tembayat pada masa itu sangat mungkin terjadi. Dalam perspektif arkeologi, batik adalah benda budaya bergerak yang mudah berpindah lokasi karena merupakan benda pakai, dan motif-motifnya akan segera diadopsi oleh pembatik setempat.

Di dalam buku berjudul “Fabric of Enchantment” yang merupakan kumpulan artikel dari beberapa penulis tentang batik di pantai utara Jawa , terdapat beberapa foto corak batik yang disebut sebagai batik Semarang. Batik-batik  tersebut kini disimpan di Los Angeles County Museum of Art. Angka tahun pembuatan yang tertera adalah 1880, 1890, dan 1910. Dilihat dari angka tahun, maka teridentifikasi bahwa batik-batik tersebut adalah batik produksi perusahaan batik Belanda, yang sudah mulai ada di Semarang sekitar tahun 1817. Menurut buku tersebut, corak batik yang disebut sebagai batik  ”Semarang”  mengadopsi ragam hias Cina (burung phoenix/merak ) dan Belanda (buketan dan kupu-kupu), dengan warna-warna terang. Sementara itu di dalam  buku tulisan Fiona Kerlogue, yang disebut sebagai Semarangan adalah jenis tanahannya.

Meskipun sama dengan benda-benda temuan arkeologi lain yang memiliki unsur ruang dan waktu,  batik lebih  sulit ditelusuri lokasi pembuatannya jika tidak memiliki motif yang khas yang sudah dikenal. Dari segi ruang, batik (motif batik) mudah untuk beradaptasi dengan motif lain yang berada di luar lokasinya. Demikian juga dari sisi waktu pembuatan sulit diperkirakan, karena motif yang diciptakan pada masa lampau masih dibuat hingga masa sekarang.

Dengan belum diketemukannya sisa-sisa batik kuno dari masa sebelum kolonial di Semarang, apakah berarti kita tidak dapat melacak motifnya lagi, ataukah kita akan menganggap batik Semarangan tidak pernah ada. Ada beberapa catatan yang mungkin dapat dijadikan wacana untuk mencari jawabannya, :

1.      Menelusuri melalui sejarah Semarang, yakni dari kepindahan Sunan Pandananaran I ke Bayat. Hal ini memungkinkan adanya kepindahan motif-motif batik yang saat itu digunakan oleh keluarga Pandanaran.

2 Mengkaji motif-motif yang ada di sekitar kota Semarang. Kendal, misalnya sekitar awal abad XX pernah menjadi kota produsen batik. Meskipun yang diketemukan hanya alat batik cap, tetapi tetap memberikan indikasi bahwa di Kendal pernah ada kerajinan batik. Dari wawancara dengan salah seorang keturunan pembatik, pembatikan tulis di Kendal pernah ada dan dikerjakan sebagai kerajinan rumahan.

2.      Selain Kendal, Demak juga patut untuk dikaji sebagai daerah yang  corak batiknya mungkin terkait dengan Semarang, karena ada pertalian darah antara Raja Demak dengan Sunan Pandanaran I.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.