- http://www.suaramerdeka.com/harian/0702/20/kot12.htm
- Oleh: Achiar M Permana
HINGGA paruh dekade 1960-an, kebaya encim masih menempati posisi penting di kalangan peranakan. Pada masa itu, setiap perempuan Tionghoa yang memasuki usia 40-an pasti segera menyiapkan koleksi kebaya encim. Sebab, pada usia itu mereka memasuki fase ibu-ibu, yang harus sering memakai kebaya pada perhelatan atau kehidupan sehari-hari.
”Hingga zaman mamah saya, kebaya encim masih sangat populer. Sebuah situasi yang amat berbeda dibandingkan sekarang,” papar pegiat Sahabat Warisan Budaya (SWB) Widya Wijayanti.
Perkembangan zaman, menurut dia, membawa dampak kurang menggembirakan pada kebaya yang merupakan wujud akulturasi Jawa-China itu. Perempuan Tionghoa pada era sekarang tak terlampau akrab dengan kebaya encim. Terlebih pada pemakaian harian.
Hal itu mengundang keprihatinan Widya, yang juga Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng. Maka, bersama para pencinta busana tersebut, perempuan yang juga aktif pada Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) itu merancang upaya untuk merevitalisasi kebaya encim.
Belum lama ini, mereka menggelar peragaan busana encim di tengah-tengah kemeriahan pelaksanaan Pasar Imlek Semawis. Widya bersama sejumlah tokoh lain terjun langsung sebagai ”peragawati dadakan”, memeragakan busana tersebut. Mereka antara lain Ketua Paguyuban Pencinta Batik ”Bokor Kencono” Dyah Dewi Tunjung dan Benita Eka Arijani dari Capung Event Organizer. Peragaan memanfaatkan panggung utama di perempatan Sebandaran, atau tepat di ujung Gang Gambiran, sebagai catwalk.
Mereka terlihat anggun dalam balutan kebaya encim, yang dipadu dengan sarung bermotif cirebonan, batik pekalongan, atau batik lasem. Walaupun sesekali terlihat canggung, penampilan pada ”peragawati old crack” itu tak urung mengundang tepukan para pengunjung pasar malam.
”Sebetulnya tak ada kiat khusus tampil di hadapan pengunjung. Saya sendiri, sehari-hari memang kerap memakai kebaya encim, yang dipadupadankan dengan kain,” aku Widya.
Yang menarik, pada peragaan itu ditampilkan sejumlah kebaya encim berusia tua. Antara lain, kebaya warisan mendiang Ong Kiok Hwa, pada paruh kedua abad ke-20. Ada juga kebaya dari tahun 1960-an atau masa yang lebih muda lagi.
Akulturasi
Data yang dikumpulkan Suara Merdeka, kebaya encim merupakan salah satu kosa budaya khas masyarakat peranakan. Busana yang juga disebut kebaya nyonya itu terdapat di kawasan Pecinan Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di berbagai kawasan itu, kebaya menunjukkan ciri khas masyarakat peranakan, biasanya dihiasi dengan sulam atau bordir, dan dipakai dengan sarung atau kain panjang bermotif pesisiran atau Jawa hokokai.
Dari wujud dan aksesori pelengkapnya, kebaya encim dipengaruhi banyak elemen budaya yang ada di wilayah Asia Tenggara dan China. Selain itu, juga tampak pengaruh barat pada motif sulaman seperti gambar penari flamengo atau flora.
Pengamat budaya Tionghoa, Jongkie Tio menyebutkan, kebaya encim dipakai para perempuan peranakan, yakni orang Indonesia yang dilahirkan di Indonesia, berayahkan China dan beribukan warga setempat. Perempuan peranakan, terutama yang telah menikah, dalam keseharian mengenakan sarung dan kebaya encim. ”Nyonya-nyonya Belanda pun pada masanya mengenakan busana semacam itu untuk pakaian rumah.” (62)
Filed under: Uncategorized