Parang Merah Putih

19/08/2008 23:12 wib – Daerah Aktual

http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=12049

Semarang, CyberNews. Puluhan batik tulis nuansa merah putih dipamerkan dalam pameran batik dan keris bertajuk The Java Heritage di lobby Hotel Ciputra, Selasa (19/8).

Pameran yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Paguyuban Keris Puri Wiji, Hotel Ciputra dan Suara Merdeka itu memajang batik dengan berbagai macam motif dari berbagai macam daerah di Jawa Tengah, Madura, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Selain batik, juga dipamerkan puluhan keris koleksi Paguyuban Keris Puri Wiji. Ada keris buatan kerajaan Mataram seperti keris carubuk berpamor tejo kinurung batu lapak berluk tujuh, keris sengkelat berpamor ngulit semangka dengan luk 13, keris sengkelat berpamor beras wutah dengan luk tujuh dan lain-lain.

Pada kesempatan itu, General Manager Ciputra Achil Hermanto bersama Managing Director Suara Merdeka Kukrit SW, Ketua Paguyuban Keris Puri Wiji Drs ST Sukirno MS dan Nita Kenzo dari Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono memeragakan proses membuat batik melalui torehan malam dengan canthing di atas kain.

Kukrit mengatakan, keris dan batik adalah budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebelum para generasi muda mulai melupakan karya seni bangsa Indonesia yang unik dan indah itu. Apalagi keris yang identik dengan dunia klenik, dan hanya digunakan berbarengan dengan mengenakan pakaian adat Jawa yaitu beskap.

“Dua-duanya patut disosialisasikan sebelum anak-anak muda kita tidak kenal dan negara tetangga mengklaim sebagai karya bangsa mereka,” katanya.

Motif Parang

Menurut Nita Kenzo, pameran ini sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan batik sebagai identitas bangsa sekaligus memperkuat rasa nasionalisme melalui ajakan gemar berbatik. Secara khusus dipamerkan pula batik motif parang, salah satu motif klasik batik Jawa dalam nuansa merah putih.

Hal itu dibenarkan Dewi Tunjung ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono, bahwa motif ini termasuk sakral karena yang boleh menggunakan hanya keturunan raja. “Semakin bermotif, semakin tinggi derajat si pemakai. Parang juga berarti tebing dan perang. Dimana saat berperang jaman dulu menggunakan keris sebagai senjata,” ujarnya.

Motif parang termasuk pola geometris yaitu terdiri atas bentuk belah ketupat. Keseluruhan bentuk pada media kain menampakkan pola batik bergaris miring tegas, 40 derajat. Bentuk ini merupakan deformasi dari beberapa bentuk dan simbol-simbol antara lain ombak laut yang susul menyusul menerpa tebing batu (parang), pusaran air diantara ombak yang distilisasi jadi bentuk permata dimana bentuk ini acap disebut mlinjon.

(Fani Ayudea /CN09)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.