Batik Butuh Keberpihakan Pemerintah

dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0710/11/kot08.htm

Line

Batik Butuh Keberpihakan Pemerintah

AKIBAT modernisasi, terutama sejak masuknya bahan-bahan tekstil dari luar negeri, orang mulai berpaling dari kerajinan batik. Sehingga kerajinan batik semakin lama kian turun, pemakainya pun makin lama kian berkurang. Padahal batik adalah kekayaan budaya Indonesia.

“Seperti kita tahu, batik itu produksinya tidak cepat. Karena batik baik cap maupun tulis dibuat dengan tangan. Sementara tekstil dibuat dengan mesin sehingga lebih cepat dan murah,” ujar Dewi Tunjung, ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono dalam “Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1428 H”, Rabu (10/10), yang disiarkan langsung dari lobi Hotel Ciputra oleh 105,2 Suara Sakti FM, dan dimoderatori oleh Eriyati R Saptoputratmo.

Menurutnya, penurunan perajin batik di Jateng sangat drastis. Dulu, di tahun 1950-1960-an, batik pernah mengalami masa keemasan. Namun memasuki era 1970-an produksi batik mulai menurun karena masuknya produk tekstil dari luar negeri. Kemudian, batik benar-benar jatuh pada tahun 1990-1998 karena krismon. “Itu betul-betul memicu. Contohnya di Banyumas. Dari seratusan perajin tinggal 12 perajin. Di Lasem juga sama dari ratusan tinggal puluhan,” papar Dewi dalam acara yang didukung oleh Djarum Super, Telkom Flexi, Wawasan, dan Mandiri Prioritas. Dalam acara ini pendengar juga bisa berinteraksi melalui SMS di (024) 70400550 dan telepon interaktif di (024) 8447154.

Oleh karena itu, lanjutnya, paguyuban Bokor Kencono bertujuan untuk memotivasi pemerintah. Agar pemerintah kembali membantu dan mendorong para perajin. Karena harus ada keberpihakan dari pemerintah daerah. “Perajin batik tidak bisa bersaing sendiri dengan tekstil. Karena biasanya pengusaha tekstil itu berekonomi kuat. Sementara perajin adalah kaum lemah di mana mereka menghasilkan satu-satu untuk hidup sehari-hari,” katanya dalam acara yang dipandu oleh Wina, host dari Suara Sakti FM.

Sekarang para perajin telah mulai berinovasi. Mereka menggabungkan motif tradisional dengan motif baru. Mereka juga sudah membuat warna-warna yang lebih cerah sehingga lebih mudah dipasarkan. (Fani Ayudea-41)

Kebaya Encim, Kosa Budaya Peranakan yang Terancam Hilang

HINGGA paruh dekade 1960-an, kebaya encim masih menempati posisi penting di kalangan peranakan. Pada masa itu, setiap perempuan Tionghoa yang memasuki usia 40-an pasti segera menyiapkan koleksi kebaya encim. Sebab, pada usia itu mereka memasuki fase ibu-ibu, yang harus sering memakai kebaya pada perhelatan atau kehidupan sehari-hari.

”Hingga zaman mamah saya, kebaya encim masih sangat populer. Sebuah situasi yang amat berbeda dibandingkan sekarang,” papar pegiat Sahabat Warisan Budaya (SWB) Widya Wijayanti.

Perkembangan zaman, menurut dia, membawa dampak kurang menggembirakan pada kebaya yang merupakan wujud akulturasi Jawa-China itu. Perempuan Tionghoa pada era sekarang tak terlampau akrab dengan kebaya encim. Terlebih pada pemakaian harian.

Hal itu mengundang keprihatinan Widya, yang juga Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng. Maka, bersama para pencinta busana tersebut, perempuan yang juga aktif pada Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) itu merancang upaya untuk merevitalisasi kebaya encim.

Belum lama ini, mereka menggelar peragaan busana encim di tengah-tengah kemeriahan pelaksanaan Pasar Imlek Semawis. Widya bersama sejumlah tokoh lain terjun langsung sebagai ”peragawati dadakan”, memeragakan busana tersebut. Mereka antara lain Ketua Paguyuban Pencinta Batik ”Bokor Kencono” Dyah Dewi Tunjung dan Benita Eka Arijani dari Capung Event Organizer. Peragaan memanfaatkan panggung utama di perempatan Sebandaran, atau tepat di ujung Gang Gambiran, sebagai catwalk.

Mereka terlihat anggun dalam balutan kebaya encim, yang dipadu dengan sarung bermotif cirebonan, batik pekalongan, atau batik lasem. Walaupun sesekali terlihat canggung, penampilan pada ”peragawati old crack” itu tak urung mengundang tepukan para pengunjung pasar malam.

”Sebetulnya tak ada kiat khusus tampil di hadapan pengunjung. Saya sendiri, sehari-hari memang kerap memakai kebaya encim, yang dipadupadankan dengan kain,” aku Widya.

Yang menarik, pada peragaan itu ditampilkan sejumlah kebaya encim berusia tua. Antara lain, kebaya warisan mendiang Ong Kiok Hwa, pada paruh kedua abad ke-20. Ada juga kebaya dari tahun 1960-an atau masa yang lebih muda lagi.

Akulturasi

Data yang dikumpulkan Suara Merdeka, kebaya encim merupakan salah satu kosa budaya khas masyarakat peranakan. Busana yang juga disebut kebaya nyonya itu terdapat di kawasan Pecinan Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di berbagai kawasan itu, kebaya menunjukkan ciri khas masyarakat peranakan, biasanya dihiasi dengan sulam atau bordir, dan dipakai dengan sarung atau kain panjang bermotif pesisiran atau Jawa hokokai.

Dari wujud dan aksesori pelengkapnya, kebaya encim dipengaruhi banyak elemen budaya yang ada di wilayah Asia Tenggara dan China. Selain itu, juga tampak pengaruh barat pada motif sulaman seperti gambar penari flamengo atau flora.

Pengamat budaya Tionghoa, Jongkie Tio menyebutkan, kebaya encim dipakai para perempuan peranakan, yakni orang Indonesia yang dilahirkan di Indonesia, berayahkan China dan beribukan warga setempat. Perempuan peranakan, terutama yang telah menikah, dalam keseharian mengenakan sarung dan kebaya encim. ”Nyonya-nyonya Belanda pun pada masanya mengenakan busana semacam itu untuk pakaian rumah.” (62)

Parang Merah Putih

19/08/2008 23:12 wib – Daerah Aktual

http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=12049

Semarang, CyberNews. Puluhan batik tulis nuansa merah putih dipamerkan dalam pameran batik dan keris bertajuk The Java Heritage di lobby Hotel Ciputra, Selasa (19/8).

Pameran yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Paguyuban Keris Puri Wiji, Hotel Ciputra dan Suara Merdeka itu memajang batik dengan berbagai macam motif dari berbagai macam daerah di Jawa Tengah, Madura, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Selain batik, juga dipamerkan puluhan keris koleksi Paguyuban Keris Puri Wiji. Ada keris buatan kerajaan Mataram seperti keris carubuk berpamor tejo kinurung batu lapak berluk tujuh, keris sengkelat berpamor ngulit semangka dengan luk 13, keris sengkelat berpamor beras wutah dengan luk tujuh dan lain-lain.

Pada kesempatan itu, General Manager Ciputra Achil Hermanto bersama Managing Director Suara Merdeka Kukrit SW, Ketua Paguyuban Keris Puri Wiji Drs ST Sukirno MS dan Nita Kenzo dari Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono memeragakan proses membuat batik melalui torehan malam dengan canthing di atas kain.

Kukrit mengatakan, keris dan batik adalah budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebelum para generasi muda mulai melupakan karya seni bangsa Indonesia yang unik dan indah itu. Apalagi keris yang identik dengan dunia klenik, dan hanya digunakan berbarengan dengan mengenakan pakaian adat Jawa yaitu beskap.

“Dua-duanya patut disosialisasikan sebelum anak-anak muda kita tidak kenal dan negara tetangga mengklaim sebagai karya bangsa mereka,” katanya.

Motif Parang

Menurut Nita Kenzo, pameran ini sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan batik sebagai identitas bangsa sekaligus memperkuat rasa nasionalisme melalui ajakan gemar berbatik. Secara khusus dipamerkan pula batik motif parang, salah satu motif klasik batik Jawa dalam nuansa merah putih.

Hal itu dibenarkan Dewi Tunjung ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono, bahwa motif ini termasuk sakral karena yang boleh menggunakan hanya keturunan raja. “Semakin bermotif, semakin tinggi derajat si pemakai. Parang juga berarti tebing dan perang. Dimana saat berperang jaman dulu menggunakan keris sebagai senjata,” ujarnya.

Motif parang termasuk pola geometris yaitu terdiri atas bentuk belah ketupat. Keseluruhan bentuk pada media kain menampakkan pola batik bergaris miring tegas, 40 derajat. Bentuk ini merupakan deformasi dari beberapa bentuk dan simbol-simbol antara lain ombak laut yang susul menyusul menerpa tebing batu (parang), pusaran air diantara ombak yang distilisasi jadi bentuk permata dimana bentuk ini acap disebut mlinjon.

(Fani Ayudea /CN09)

Batik China Berpotensi Gusur Batik Lokal

dari http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/17/00210471/batik.china.berpotensi.gusur.batik.lokal.

Rabu, 17 September 2008 | 00:21 WIB

SEMARANG, RABU – Membanjirnya tekstil bermotif batik asal China di pasaran berpotensi menggusur batik lokal dan mematikan usaha perajin batik. Untuk itu, perlu adanya perlindungan terhadap batik lokal sebagai budaya tradisional.

“Padahal, tekstil bermotif batik asal China ini bukanlah batik. Namun, justru produk yang berusaha meniru budaya tradisional asli Indonesia,” ujar Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Diah Wijaya Dewi, ketika dihubungi, Selasa (16/9).

Dewi mencontohkan, dampak membanjirnya batik asal China ini sudah dirasakan pengusaha batik cap yang biasa memasukkan produknya ke pasar tradisional.

“Salah satu pengusaha batik cap asal Pekalongan sudah ditolak produknya untuk masuk ke Pasar Johar karena para pedagang sudah memasok batik asal China ini,” ujar perempuan yang kerap dipanggil Dewi Tunjung ini.

Kondisi ini, lanjut Dewi, disebabkan batik asal China ini harganya lebih murah dibandingkan batik lokal, sehingga masyarakat beralih mengonsumsi produk China tersebut.

Di Pasar Johar, Kota Semarang, batik asal China ini sudah dipasok lebih kurang lima bulan terakhir. Para pedagang mengaku lebih senang menjual batik ini karena lebih cepat laku.

Oleh karena itu, menurut Dewi, pemerintah mestinya melindungi budaya lokal sebelum produk asal China ini mematikan pengusaha batik lokal. “Perlu ada regulasi dari pemerintah yang membatasi atau bahkan melarang tekstil impor asal China ini karena mengancam budaya lokal sendiri,” katanya.

Pengurus Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Widya Wijayanti menambahkan, membanjirnya tekstil bermotif batik asal China ini mungkin tidak memengaruhi pengusaha batik besar yang telah memiliki pasar namun berdampak besar pada perajin kecil yang belum memiliki akses pasar dan tidak bermodal besar.

Selain itu, Dewi Tunjung juga mengimbau pada masyarakat kepada masyarakat untuk tidak sekadar memakai batik namun juga memahami esensi dari batik itu sendiri sebagai budaya asli Indonesia.

Pakar sejarah dan pengamat batik dari Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro, Dewi Yuliati mengatakan, tekstil bermotif batik asal China ini bukanlah batik seperti yang dikembangkan di Indonesia. “Pembuatan batik dilakukan melalui proses dari pelukisan hingga pencelupan, sedangkan China tidak memiliki budaya membatik seperti ini,” ujarnya.
Harry Susilo

Batik Semarang

Dra. Dyah Wijaya Dewi, M Hum
Pencarian motif batik Semarang sudah setahun ini menjadi topik pembicaraan di kalangan pemerhati batik di kota Semarang. Hal tersebut dapat dimengerti karena dalam rangka peningkatan potensi lokal, pemerintah melakukan upaya pengembangan dan penggalian kerajinan-kerajinan tradisional, termasuk beberapa kali melakukan pelatihan membatik. Hingga saat ini perajin batik hasil pelatihan yang diadakan oleh pemerintah kota, baik melalui dinas Perindag ataupun dinas tenaga kerja telah mencapai sekitar 100 pembatik. Meskipun belum semua pembatik-pembatik itu mampu menghasilkan kain-kain yang memenuhi standard untuk dipasarkan, kegiatan membatik dan produksi batik terus berjalan. Motif-motif yang sering muncul dari para perajin batik di Semarang, sampai sat ini, adalah motif-motif yang diambil dari motif batik-batik lama masa Belanda, serta motif-motif baru yang sebagian merupakan ikon kota Semarang.

Seperti saya sampaikan di atas, pemerintah kota Semarang, melalui Dekranasda dan Disperindag mempunyai keinginan agar Semarang memiliki motif khas batik. Untuk itu beberapa saat yl dilakukan seminar tentang batik Semarang, yang tujuannya untuk dapat merumuskan motif batik yang akan menjadi ciri batik Semarang. Dalam seminar itu ditampilkan batik-batik lama yang diperkirakan merupakan batik Semarang. Pembicara, DR Dewi Yuliati memberikan data-data yang diambil dari Berita Belanda (Kolonial Verslag 119 & 1925.),menyebutkan industri batik di Semarang mencapai jumlah 107, dengan perajin perempuan dan laki-laki sebanyak 800 orang. Melihat jumlah industri batik sebanyak itu, seharusnya masih bisa didapatkan  sample  yang lebih banyak. Selain itu motif-motif dari temuan batik tersebut, sebenarnya tidak merupakan motif yang hanya dipunyai oleh batik yang diketemukan di Semarang, tetapi juga ada pada batik daerah lain (Pekalongan, Demak, Kebumen). Sebenarya selain motif, ciri dapat juga dimunculkan oleh warna dan jenis tanahan. Mengenai tanahan, di sebuah buku batik koleksi G. Smend (ditulis oleh Fiona Kroeger), yang disebut sebagai ciri Semarangan adalah jenis tanahannya.

Batik adalah sebuah benda budaya yang dihasilkan oleh  masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu pada suatu masa tertentu. Batik juga merupakan hasil karya manusia yang mevisualisasikan lingkungannya pada masa itu, baik lingkungan fisik maupun nonfisik yang dianut masyarakatnya ( filsafat, nilai-nilai, simbol, cerita rakyat dsb). Selain terkait erat dengan lingkungannya , perkembangan batik di suatu wilayah juga dipengaruhi oleh situasi politik dan kekuasaan daerah tersebut. Mengenai hal ini kita dapat mengambil referensi dari sejarah Sultan Agung dan P Diponegoro, yang di dalam perjalanan perangnya sekaligus merupakan penyebaran batik ke wilayah-wilayah yang disinggahinya..

Di Semarang, jika kita ingin meruntut sejarah , Bupati Semarang yang dinobatkan pada tahun 1547 dengan gelar Sunan Pandan Arang II, memutuskan untuk mendalami masalah keagamaan dan menyingkir ke Tembayat, Klaten. Perpindahan Sunan Pandan Arang II ke Tembayat tentunya juga merupakan perpindahan batik-batik yang dikenakan olehnya, keluarga dan pengiringnya. Mengingat bahwa di Tembayat hingga kini masih ada komunitas pembatik, maka pengadaptasian motif batik dari batik Semarang yang ‘dibawa’ oleh Sunan Pandan Arang  ke dalam batik Tembayat pada masa itu sangat mungkin terjadi. Dalam perspektif arkeologi, batik adalah benda budaya bergerak yang mudah berpindah lokasi karena merupakan benda pakai, dan motif-motifnya akan segera diadopsi oleh pembatik setempat.

Di dalam buku berjudul “Fabric of Enchantment” yang merupakan kumpulan artikel dari beberapa penulis tentang batik di pantai utara Jawa , terdapat beberapa foto corak batik yang disebut sebagai batik Semarang. Batik-batik  tersebut kini disimpan di Los Angeles County Museum of Art. Angka tahun pembuatan yang tertera adalah 1880, 1890, dan 1910. Dilihat dari angka tahun, maka teridentifikasi bahwa batik-batik tersebut adalah batik produksi perusahaan batik Belanda, yang sudah mulai ada di Semarang sekitar tahun 1817. Menurut buku tersebut, corak batik yang disebut sebagai batik  “Semarang”  mengadopsi ragam hias Cina (burung phoenix/merak ) dan Belanda (buketan dan kupu-kupu), dengan warna-warna terang. Sementara itu di dalam  buku tulisan Fiona Kerlogue, yang disebut sebagai Semarangan adalah jenis tanahannya.

Meskipun sama dengan benda-benda temuan arkeologi lain yang memiliki unsur ruang dan waktu,  batik lebih  sulit ditelusuri lokasi pembuatannya jika tidak memiliki motif yang khas yang sudah dikenal. Dari segi ruang, batik (motif batik) mudah untuk beradaptasi dengan motif lain yang berada di luar lokasinya. Demikian juga dari sisi waktu pembuatan sulit diperkirakan, karena motif yang diciptakan pada masa lampau masih dibuat hingga masa sekarang.

Dengan belum diketemukannya sisa-sisa batik kuno dari masa sebelum kolonial di Semarang, apakah berarti kita tidak dapat melacak motifnya lagi, ataukah kita akan menganggap batik Semarangan tidak pernah ada. Ada beberapa catatan yang mungkin dapat dijadikan wacana untuk mencari jawabannya, :

1.      Menelusuri melalui sejarah Semarang, yakni dari kepindahan Sunan Pandananaran I ke Bayat. Hal ini memungkinkan adanya kepindahan motif-motif batik yang saat itu digunakan oleh keluarga Pandanaran.

2 Mengkaji motif-motif yang ada di sekitar kota Semarang. Kendal, misalnya sekitar awal abad XX pernah menjadi kota produsen batik. Meskipun yang diketemukan hanya alat batik cap, tetapi tetap memberikan indikasi bahwa di Kendal pernah ada kerajinan batik. Dari wawancara dengan salah seorang keturunan pembatik, pembatikan tulis di Kendal pernah ada dan dikerjakan sebagai kerajinan rumahan.

2.      Selain Kendal, Demak juga patut untuk dikaji sebagai daerah yang  corak batiknya mungkin terkait dengan Semarang, karena ada pertalian darah antara Raja Demak dengan Sunan Pandanaran I.

Perlunya Pelestarian Ciri Khas Daerah bagi Batik Rakyat

Perlunya Pelestarian Ciri Khas Daerah bagi Batik Rakyat

Dra Dyah Wijaya Dewi, MHum*

Bagi negara multukultur seperti Indonesia, istilah identitas budaya bukan sesuatu yang asing, yakni, satu atau beberapa tanda-tanda budaya yang dapat menunjukkan identitas suku bangsa, etnik atau suatu kelompok masyarakat dari suatu daerah.

Pada batik/ seni membatik, maka identitas merupakan tanda yang tertuang di dalam corak batik, yakni tanahannya, motifnya atau pewarnaannya, yang akan menunjukkkan dari wilayah mana batik itu dibuat.

Keterkaitan batik dengan sejarah daerah di mana batik itu dibuat tidak dapat dihindari. Batik sebagai hasil budaya masyarakat Jawa sudah melalui masa yang panjang. Beberapa candi dari masa Hindu Budha di Jawa Tengah  memvisualisasikan batik sebagai pakaian raja. Begitu juga ada prasasti-prasasti dari masa itu yang menyebutkan adanya proses membatik sebagai kegiatan masyarakatnya. Itulah sebabnya di dalam mengamati batik, baik dari segi corak maupun masyarakat pembuatnya, kita tidak dapat melepaskannya dari sejarah politik maupun sejarah kebudayaan. Interaksi yang terjadi karena politik ataupun hanya karena hubungan perdagangan dan sosial dapat menyebabkan suatu corak batik dari satu wilayah dapat ‘masuk’ ke wilayah lain.

Batik Klaten sejak dulu memiliki keterkaitan dengan Surakarta. Sejak berdirinya keraton Surakarta melalui perjanjian Giyanti (1755) banyak batik-batik yang digunakan oleh kerabat Keraton Surakarta dibuat di Bayat Klaten, dengan demikian keterkaitan batik Klaten dengan batik Solo merupakan keterkaitan yang sudah terjadi sejak masa lampau. Corak khas batik Bayat adalah pada warna : warna coklat sogan dan tanahannya : ukel dan grinsing yang menyatu. Sedangkan motif-motif nya mengambil motif klasik batik Solo (sido, semen, dsb).  Kolaborasi corak corak tersebut  muncul akibat interaksi yang sudah cukup lama antara Klaten dengan Surakarta.

Mengapa Ciri Khas Harus Dilestarikan :

Di dalam Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia (2003),  suatu kegiatan pelestarian warisan budaya adalah kegiatan yang bertujuan untuk  pengokohan identitas bangsa, meningkatkan potensi daerah yang akan berdampak ada peningkatan ekonomi rakyat, serta sarana pendidikan bagi generasi muda. Pada ranah batik, pelesarian juga penting dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa kita, bangsa Indonesia memiliki karya seni yang khas dan unik.Mengingat bahwa seni membatik dimiliki oleh banyak daerah (kabupaten/kota) di Jawa Tengah maka pelestarian, dan penonjolan motif ciri khas menjadi hal yang penting, karena  dapat menjadikan batik daerah tersebut sebagai sumber daya budaya daerahnya, untuk meningkat potensi lokal. Dalam hal ini meningkatkan potensi lokal merupakan upaya untuk meningkatan pendapatan masyarakat, dan meningkatkan aset di bidang pariwisata.

* Penggiat Pelestarian Budaya, Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono.

Mengenal Tradisi Batik

Dra Dyah Wijaya Dewi, M Hum

Batik yang berasal dari kata bahasa jawa embat dan titik, yang artinya mengisi dengan titik-titik adalah bentuk seni melukis dengan sistim perintang warna, dengan menggunakan alat canting dan malam. Di Indonesia seni membatik sudah dikenal sejak abad X. Hal ini diketahui dari sebuah prasasti dari wangsa Sanjaya yang menyebut adanya proses pembuatan batik. Selanjutnya sejarah perkembangan batik berjalan seiring dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian karena masuknya bangsa-bangsa asing ke Nusantara, maka batikpun mengalami perkembangan corak, motif dan warna.

Perkembangan Batik dan Sejarah Indonesia

Berbicara masalah perkembangan batik terutama di Jawa, maka kita harus melihat juga kepada perjalanan sejarah tanah Jawa. Hal ini mengingat pada masa lalu batik yang digambarkan pada kain tenun adalah satu-satunya busana yang dikenakan oleh masyarakat Jawa, sebelum berbagai jenis kain dari luar Nusantara masuk dibawa oleh pedagang bangsa asing. Keterkaitan perkembangan batik dengan sejarah disebabkan adanya interaksi antara masyarakat dari satu daerah dengan daerah lain akibat kehidupan perdagangan, perkawinan,  ataupun akibat pengambilalihan kekuasaan suatu wilayah dari satu penguasa ke penguasa lainnya. Misalnya motif Mataraman yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat pedalaman Banyumas dan sekitarnya karena dibawa oleh keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro, atau motif-motif batik Jepara (yang waktu itu menjadi bagian dari kerajaan Mataram) masuk ke wilayah pesisir Rembang, karena perkawinan RA Kartini) dengan bupati Rembang.

Ada dua pendapat yang hingga kini masih sering menjadi perbincangan di kalangan pemerhati batik, yaitu tentang persebaran motif batik Pertama adalah  pendapat yang menyebutkan bahwa seni membatik merupakan seni rakyat yang kemudian diadopsi oleh kalangan istana, sementara pendapat lain menyebut sebaliknya, bahwa seni lukis di atas kain tersebut bermula dari istana, dan kemudian oleh para abdi dalem yang biasanya memiliki keluarga di luar, dibawa keluar istana. Bukan merupakan hal penting untuk diperdebatkan, karena hanya perlu digunakan untuk landasan berpikir guna mangkaji motif-motif yang kemudian berkembang hampir di setiap daerah di jawa Tengah.

Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran

Dalam selembar batik ada tiga unsur yang bisa menjadi pembeda antara satu batik dengan batik lainnya, yaitu jenis latar dan isen, jenis motif , dan warna.

Selama ini sering kita  menyebut bahwa corak batik terbagi dua jenis sesuai lokasi batik itu dibuat , yaitu Batik Pesisir dan Batik Pedalaman. Batik Pesisir memiliki corak-corak natural ( fauna, flora, manusia), warna-warna terang, dan sering memiliki hiasan tumpal di bagian tengah. Batik Pedalaman Yogya – Solo bermotif simbolik : geometrik, serta corak-corak yang yang memiliki makna tertentu. Berwarna hitam, coklat, biru atau putih. Pendapat itu tentu didasari pengertian bahwa kebudayaan Jawa secara umum memang  terbagi atas budaya Pesisir dan budaya Keraton , yang masing-masing memiliki ciri atau identitas sendiri. Jika motif batik keraton diperkirakan sudah digunakan sejak abad X, motif pesisir muncul dan berkembang di Jaw sekitar 5 abad kemudian. Selanjutnya motif-motif  itu digunakan dan dibuat oleh masyarakatnya masing-masing, hingga pada suatu saat motif-motif itu saling berinteraksi dan saling beradaptasi.

Akan tetapi kita juga harus mengingat bahwa daerah pedalaman juga memiliki masyarakat yang hidup di luar keraton, yang secara geografis keletakannya jauh dari keraton. Masyarakat ini tentunya memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan komunitas keraton, yang sarat dengan aturan dan simbol, tapi juga berbeda dengan masyarakat Pesisir. Mengingat batik adalah jenis pakaian yang digunakan oleh orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari, tentu kegiatan membatik juga dilakukan oleh masyarakat pedalaman ‘nonkeraton’ itu ( Sebelum batik menjadi komoditi dagang, orang harus membuat sendiri batik yang akan dipakainya) .Motif apa yang mereka buat, dan pola pikir apa yang mendasari mereka mencipta motif batiknya? .Dari temuan  batik-batik lama yang berasal dari daerah nonpesisir seperti Banyumas, Sokaraja, Kebumen, Banjarnegara, Wonogiri dan mungkin daerah-daerah lain, terlihat bahwa mereka mengadopsi corak dan warna  dari Pesisir dan Keraton. Bahkan sering dua jenis motif itu dipadukan dalam selembar kain, misalnya motif geometrik menjadi dasar dari motif natural, sehingga muncul motif-motif misalnya, bunga di atas motif kawung, atau burung di atas motif tluntum atau parang. Warna-warna cerah juga sering  muncul dibarengi dengan warna sogan keraton. Selain itu, alam lingkungan tampaknya sangat mempengaruhi corak batik mereka, sehingga muncul motif jenis-jenis daun yang kemungkinan merupakan tanaman yang banyak tumbuh di derah mereka. Penamaan dan motif batik sering menggunakan nama jenis tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan, misalnya beras, kedelai, kunyit, daun ubi, biji melinjo, bambu, salak, mangga, dsb. Kelihatannya tanaman yang sangat berkaitan dengan pangan menjadi motif favorit mereka.

Motf dan Makna Batik

Pada masa lampau orang menciptakan motif batik tidak hanya dari sisi keindahan, akan tetapi juga dari sisi pemaknaan yang dihubungkan dengan falsafah kehidupan yang mereka hayati. Ragam hias sering diciptakan untuk meyampaikan pesan dan  harapan yang baik bagi kehidupan manusia.

Beberapa corak-corak batik, terutama yang merupakan corak batik keratonan memiliki makna khusus dan oleh sebagian masyarakat kita hanya digunakan pada saat tertentu. Misalnya : Motif Parang, Kawung, dan Sawat (Lar/Grudo). Pada masa lampau motif-motif tersebut hanya boleh digunakan oleh keluarga keraton. Akan tetapi peraturan itu tidakberlangsung lama, karena kemudian motif-motif larangan tersebut segera diadopsi oleh masyarakat luas di luar istana. Yang dimaksud dengan makna khusus misalnya motif kawung melambangkan kehidupan yang terus menerus, motif parang dan garuda melambangkan kekuasaan, motif gunungan/meru melambangkan dunia atas.

Selain itu ada juga motif-motif yang digunakan pada acara-acara khusus, misalnya motif Sidomukti, Sidomulyo, Sidoasih, yang digunakan pada saat perkawinan oleh pasangan pengantin, Tluntum digunakan oleh orang tua pengantin, atau Semen Rama yang digunakan pada saat seorang pria melamar calon pengantin wanita.

Sebelum Mataram terbagi menjadi Yogyakarta dan Surakarta, motif batik keduanya sama, akan tetapi setelah terjadi pemecahan menjadi dua kerajaan, juga terjadi pembedaan motif batik dari keduanya. Perbedaan yang mencolok adalah pada warna latar. Untuk latar putih, maka Yogyakarta memiliki warna putih terang, sementara Solo memiliki warna putih tulang. Demikian juga dengan warna coklat, Yogyakarta memiliki warna coklat yang lebih terang daripada warna coklat Surakarta.

Pada batik pesisir aturan pemakaian motif batik berdasarkan status sosial sejak dulu tidak dikenal. Batik pesisir yang sangat kental dengan pengaruh budaya Cina sering memakai motif-motif yang berkaitan dengan mitos Cina, misalnya burung hong, kupu, bunga atau naga. Meskipun demikian, dalam masyarakat Cina Peranakan ada warna-warna batik yang dipilih untuk dipakai jika mendatangi suatu acara tertentu, misalnya warna merah untuk menghadiri acara yang berkaitan dengan suasana kegembiraan, atau warna biru-putih untuk acara yang berkaitan dengan dukacita.Selain pengaruh Cina, batik pesisir juga memiliki unsur atau pengaruh dari budaya Arab (islam) dan juga Belanda. Pengaruh Arab biasanya dalam bentuk hiasan geometris atau kaligrafi, sedang pengaruh Belanda dengan hiasan bunga-bunga yang berbentuk buket.

Pasang Surut Batik

Batik yang semula hanya dibuat untuk dipakai sendiri oleh keluarga pembuatnya, pada masa kolonial menjadi komoditi yang diperdagangkan. Di beberapa wilayah muncul perusahaan-perusahaan batik yang dikelola baik oleh masyarakat lokal, masyarakat Tionghoa, maupun oleh orang-orang Belanda. Antara tahun 1920-1950 batik menjadi komoditi eksport ke negara-negara Eropa.

Pasang surut kehidupan batik telah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Perkembangannyapun mengikuti perjalanan  sejarah Indonesia. Sejak masa Mataram Kuno, masa Majaphit, di mana saat itu juga berkembang motif-motif pesisiran, berlanjut ke masa Mataram Islam yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Agung, dan akhirnya muncul motif-motif Belanda pada masa pemerintahan Belanda. .Batik juga berkembang menyusuri pulau Jawa , baik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan jawa Barat, dari pedalaman ke pesisir, maupun sebaliknya. Corak-corakpun semakin berkembang karena adanya saling mempengaruhi dan saling mengadaptasi antara satu jenis batik dengan lainnya.

Pada saat masa paceklik batik (1950 -1970) , batik Yogya , Solo, Pekalongan, tetap eksis, karena produsen batik tersebut bayak yang sudah dikelola  sebagai badan usaha (perusahaan). Akan tetapi batik-batik pedalaman bukan keraton, yang dibuat oleh penduduk yang kebanyakan adalah kleuarga petani, banyak ditinggalkan oleh para perajinnya, selain karena mahalnya bahan baku juga karena mulai ada persaingan degang tekstil yang datang dari luar. Para perajin tersebut  kemudian beralih profesi menjadi buruh pabrik atau berdagang, karena mereka tidak sanggup membeli bahan dasar batik.

Saat ini batik sudah berkembang menjadi busana modern. Kain batik tidak lagi harus dikenakan sebagai kain kebaya atau sarung, tetapi dapat diolah menjadi berbagai jenis busana. Dengan semakin meluasnya pemakaian batik oleh masyarakat Indonesia, maka perajin-perajin batik akan terangkat kembali kehidupannya , dan pelestarian salah satu unsur budaya tradisional Indonesia dapat tercapai.